Faktanusa.com, KUTAI KARTANEGARA – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menempatkan transformasi perkotaan sebagai bagian penting dari masa depan Tenggarong. Konsep yang didorong adalah Compact City, kota yang mengintegrasikan berbagai kebutuhan masyarakat dalam ruang perkotaan yang lebih mudah diakses.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan Konsep tersebut sebelumnya juga telah menjadi bagian dari arah pembangunan Tenggarong yang disampaikan pemerintah daerah pada peringatan Hari Jadi tahun 2025.
Menurut Aulia, pengembangan kota tidak cukup hanya menghasilkan kawasan yang terlihat tertata. Infrastruktur, ruang publik, pelayanan pemerintahan, kegiatan ekonomi, pendidikan hingga kebudayaan perlu saling terhubung sehingga aktivitas masyarakat menjadi lebih mudah.
“Kita ingin menciptakan kota yang modern, terintegrasi, efisien dan mudah diakses oleh masyarakat,” kata Aulia, Selasa (29/9/2026)
Konsep Compact City pada dasarnya mengarahkan perkembangan kota agar berbagai fungsi penting tidak berkembang secara terpisah. Masyarakat diharapkan lebih dekat dengan fasilitas pelayanan, ruang publik, pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, olahraga dan kegiatan kebudayaan.
Dalam konteks Tenggarong, gagasan tersebut memiliki tantangan tersendiri. Kota ini bukan hanya pusat pemerintahan Kabupaten Kukar, tetapi juga memiliki lapisan sejarah panjang yang berkaitan dengan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Karena itu, Aulia tidak ingin transformasi kota hanya diterjemahkan melalui pembangunan fisik. Pengembangan Tenggarong harus tetap memperhatikan karakter kota dan kebutuhan masyarakat yang tinggal di dalamnya.
“Tenggarong bukan hanya soal bagaimana kita menata ruang, tetapi bagaimana kita menciptakan kehidupan kota yang berkualitas,” ujarnya.
Arah tersebut juga berkaitan dengan posisi Tenggarong sebagai wajah Kabupaten Kukar. Dalam pandangan Aulia, masyarakat dari luar daerah akan banyak mengenal Kukar melalui apa yang mereka lihat dan rasakan ketika berada di ibu kota kabupaten.
Karena itu, kualitas jalan, ruang publik, kebersihan, pelayanan pemerintah, pusat perdagangan, fasilitas olahraga, kawasan budaya hingga aktivitas ekonomi kreatif menjadi bagian dari ekosistem perkotaan yang perlu diperhatikan secara bersamaan.
Pengembangan Compact City juga bukan gagasan yang berdiri sendiri. Dalam penyampaian pemerintah daerah pada 2025, Tenggarong disebut tengah diarahkan menuju konsep tersebut dengan fasilitas penunjang seperti infrastruktur jalan, ruang terbuka hijau, pusat olahraga, perkantoran serta pusat perdagangan dan jasa.
Bagi Aulia, kota yang terintegrasi pada akhirnya harus membuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat semakin dekat. Teknologi dapat digunakan untuk mempercepat layanan, sementara ruang fisik kota harus memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk beraktivitas.
“Pembangunan kota bukan hanya menghasilkan ruang yang tertata, tetapi juga menciptakan kehidupan kota yang berkualitas,” tegasnya.
Melalui konsep tersebut, pembangunan Tenggarong diarahkan bukan semata untuk mempercantik pusat kota, tetapi membangun kawasan perkotaan yang lebih nyaman, mudah dijangkau dan mampu menunjang aktivitas masyarakat dalam jangka panjang.
“Yang kita bangun bukan hanya kotanya, tetapi kehidupan masyarakat di dalam kota itu,” pungkas Aulia. (Adv)
Isi artikel dimuat melalui sindikasi berizin.